BALI
Indeks
Nasional

Takaichi Jerit Temukan Kecoa di Rumah Dinas Tokyo, Lalu Mengaku Sepi

Kisah ringan soal kecoa rumah dinas kembali menarik perhatian publik internasional setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menceritakannya sendiri. Pemimpin berusia 65 tahun itu mengaku sempat menjerit ketika menemukan serangga di kediaman resmi di Tokyo, namun justru merasa sedih dan kesepian setelah kecoa tersebut disingkirkan. Bagi pembaca di Denpasar yang akrab dengan serangga tropis, pengakuan ini terasa akrab sekaligus mengejutkan karena datang dari penghuni rumah dinas paling bergengsi di Jepang.

Takaichi dikenal aktif di media sosial. Ia menyinggung pengalaman itu saat menjawab pertanyaan seputar kehidupan di kediaman resmi perdana menteri. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah ia sudah bertemu hantu yang konon menghuni bangunan tersebut.

Hantu legenda versus kecoa nyata

Legenda tentang arwah di rumah dinas PM Jepang berakar pada sejarah kelam. Konon, bangunan itu dikaitkan dengan orang-orang yang tewas dalam dua upaya kudeta berdarah pada 1930-an. Takaichi menegaskan ia belum pernah menjumpai hantu. Yang membuatnya berteriak justru seekor kecoa.

“Saya tidak pernah bertemu hantu, tetapi sampai baru-baru ini, saya yang berteriak setiap kali menemukan kecoa,” tulisnya dalam unggahan di akun X pada 22 Agustus. Pengakuan itu membalik ekspektasi banyak orang yang lebih penasaran pada kisah supernatural ketimbang hama rumah tangga.

Pindah Desember dan bangunan tua 1929

Takaichi menempati rumah dinas tersebut sejak Desember lalu. Bangunan berbahan batu bata dan batu itu dibuka pada 1929. Sebelumnya, kompleks itu berfungsi sebagai kantor perdana menteri hingga kantor baru didirikan di sebelahnya. Usia bangunan yang hampir seabad sering dikaitkan dengan cerita mistis, tetapi bagi Takaichi gangguan yang nyata justru datang dari serangga.

Ia menambahkan, saat masih tinggal di asrama anggota parlemen, ia tidak pernah berurusan dengan kecoa. Perubahan lingkungan ke rumah dinas yang lebih tua rupanya membawa “tamu” tak diundang itu ke ruang pribadinya.

Dari jeritan ke rasa sepi

Setelah kecoa berhasil disingkirkan, reaksi Takaichi justru melunak. Ia mengaku merasa kesepian dan sedih. Nada itu memberi warna manusiawi pada sosok kepala pemerintahan: kejutan singkat berubah menjadi ruang kosong yang terasa sunyi.

Unggahan tersebut disambut campuran tawa dan empati di media sosial. Sebagian warganet melihatnya sebagai bukti bahwa kehidupan di balik tembok resmi tetap diwarnai perihal sehari-hari yang sangat biasa, termasuk urusan hama.

Resonansi ringan bagi pembaca Bali

Di Denpasar dan wilayah Bali lainnya, kecoa bukan pemandangan asing, terutama pada musim hujan atau di rumah dengan ventilasi terbuka. Cerita Takaichi tidak mengubah agenda politik Tokyo, tetapi menampilkan sisi personal pemimpin negara maju yang bisa dipahami lintas budaya. Tidak ada kebijakan baru yang diumumkan lewat kisah ini; yang muncul justru potret kejujuran ringan di tengah pertanyaan publik tentang rumah dinas.

Dengan gaya tutur langsung di media sosial, Takaichi mengubah pertanyaan tentang hantu menjadi anekdot tentang kecoa, lalu menutupnya dengan rasa sepi setelah serangga itu pergi. Pengakuan itu tetap menjadi pengingat bahwa detail kecil di ruang pribadi bisa menjadi percakapan publik tanpa kehilangan fakta dasarnya.

Sumber: Sindo News.

Tag: PM Jepang, Sanae Takaichi, kecoa, rumah dinas Tokyo, berita internasional, media sosial, Denpasar, Jepang