Raja Haakon VIII kini memegang kendali monarki Norwegia setelah mendiang ayahnya, Harald V, berpulang. Di Oslo, tanggung jawab itu dipandang besar karena Harald lama dikenal dekat dengan rakyat biasa dan meninggalkan jejak popularitas yang sulit disamai. Bagi pembaca di Denpasar yang mengikuti berita Eropa, pergantian raja ini menarik karena menyentuh isu suksesi, citra publik, dan cara kerajaan beradaptasi dengan zaman.
Haakon menjadi raja keempat dalam monarki modern Norwegia sejak sistem kerajaan dipulihkan pada 1905, pasca kemerdekaan dari Swedia. Ia sudah lama mendampingi ayahnya sebagai putra mahkota, bahkan kerap bertindak sebagai wali raja ketika Harald berhalangan. Dalam biografi The King Tells, Harald sempat menulis rasa syukurnya karena Haakon yang akan meneruskan perjuangan keluarga kerajaan.
Semboyan kebangsaan dan peran awal di kabinet
Salah satu langkah pertama Haakon sebagai raja adalah memimpin rapat kabinet luar biasa. Di forum itu ia mengumumkan gelar kerajaan dan mengadopsi semboyan ayahnya: Segalanya untuk Norwegia. Pengamat menilai pilihan itu menegaskan kesinambungan, bukan sekadar seremoni. Sebagai putra mahkota, Haakon sudah terbiasa memikul beban protokoler dan diplomasi yang makin berat seiring usia orang tuanya.
Kerja sama erat dengan Harald selama bertahun-tahun membuat transisi kelembagaan relatif terprediksi. Meski demikian, ekspektasi publik tetap tinggi. Monarki Norwegia tetap populer justru karena dianggap mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan wibawa formal.
Kepribadian, humor, dan garis keturunan Victoria
Sejarawan Trond Norén Isaksen menggambarkan Haakon berbeda dari Harald yang sangat karismatik. Haakon cenderung lebih tertutup, mirip ibunya, Ratu Sonja. Dalam beberapa tahun terakhir ia dinilai lebih santai dan mulai menampilkan selera humor di ruang publik. Perubahan itu muncul seiring tanggung jawab yang membesar, termasuk saat kondisi kesehatan pasangan dan orang tua menuntut kehadirannya lebih sering.
Haakon adalah cicit buyut Ratu Victoria dari Inggris. Lahir pada 1973 sebagai anak bungsu Harald dan Sonja, ia sempat menempati posisi suksesi di depan kakaknya, Putri Märtha Louise. Putrinya, Ingrid Alexandra yang berusia 22 tahun, kini menjadi putri mahkota. Amandemen konstitusi 1990 membuka hak waris bagi perempuan, sehingga Ingrid berpeluang menjadi kepala negara perempuan pertama Norwegia sejak abad ke-15.
Awalnya menolak status pangeran
Fakta yang jarang disorot: di masa muda Haakon sempat menolak status sebagai pangeran kerajaan. Sikap itu menggambarkan jarak emosional awal terhadap kekakuan istana, sebelum akhirnya ia menerima peran penuh di jalur suksesi. Perjalanan dari penolakan menuju takhta justru memperkuat narasi raja yang tumbuh bersama tuntutan publik modern, bukan semata warisan otomatis.
Gaya kepemimpinan yang diharapkan dari Haakon adalah perpaduan kehati-hatian dan keterbukaan. Ia tidak meniru karisma Harald secara mentah, tetapi membangun otoritas lewat konsistensi tugas dan komunikasi yang lebih terukur.
Pandangan modern di tengah ujian skandal keluarga
Monarki Norwegia lama dipuji karena pandangan modern. Namun tahun-tahun belakangan membawa ujian citra. Istri Haakon, Mette-Marit yang kini menjadi ratu, sempat meminta maaf terkait hubungannya di masa lalu dengan Jeffrey Epstein. Anaknya dari hubungan sebelumnya, Marius Borg Høiby, dinyatakan bersalah atas pemerkosaan dalam sidang yang menyita perhatian; proses banding masih berjalan.
Haakon naik takhta pada periode sensitif tersebut. Publik Norwegia, dan pemerhati internasional termasuk di Bali yang ramai dikunjungi wisatawan Skandinavia, akan menilai apakah istana mampu menjaga kepercayaan sambil menegakkan standar etika yang lebih ketat. Tantangan itu tidak menghapus fondasi popularitas monarki, tetapi menuntut transparansi dan sikap tegas dari raja baru.
Ke depan, perhatian tertuju pada cara Haakon VIII menyeimbangkan tradisi, reformasi suksesi lewat Putri Mahkota Ingrid Alexandra, serta pemulihan kredibilitas keluarga kerajaan. Semboyan Segalanya untuk Norwegia akan diuji bukan di atas kertas, melainkan dalam keputusan sehari-hari yang dilihat rakyat.
Sumber: Sindo News.