BALI
Indeks
Nasional

Pemulihan Mental Jadi Prioritas: Kemendikdasmen Dukung Murid dan Guru Pascagempa NTT

Layanan psikososial NTT menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah setelah gempa bumi mengguncang sejumlah wilayah di provinsi tersebut. Bagi pembaca di Denpasar dan Bali yang akrab dengan isu kesiapsiagaan bencana, langkah ini menegaskan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana tidak berhenti pada bangunan sekolah saja.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan bahwa rehabilitasi pascagempa harus menyentuh kondisi mental murid dan guru. Pernyataan itu disampaikan melalui siaran pers pada Rabu, 26 Agustus 2026, dari Jakarta, seiring upaya pemerintah pusat mendampingi komunitas pendidikan di Nusa Tenggara Timur.

Fokus pada pemulihan mental, bukan hanya infrastruktur

Menurut Abdul Mu’ti, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan memang penting, namun pemulihan jiwa peserta didik dan tenaga pendidik sama krusialnya. Tanpa dukungan emosional, proses belajar dapat terhambat meski ruang kelas sudah bisa digunakan kembali.

Pendekatan ini menempatkan kesejahteraan psikologis sebagai bagian integral dari respons pendidikan nasional. Murid yang masih diliputi rasa cemas atau trauma berisiko kehilangan konsentrasi, sementara guru yang terdampak juga membutuhkan ruang untuk memulihkan diri agar mampu mendampingi siswa secara optimal.

Kolaborasi dengan HIMPSI dan kegiatan menyenangkan

Salah satu jalur dukungan yang dijalankan adalah kerja sama dengan tim Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Melalui kegiatan yang dirancang agar anak-anak merasa ceria dan gembira, tim tersebut membantu membangun semangat di lingkungan sekolah yang terdampak.

Mendikdasmen menjelaskan bahwa pemulihan mental dilakukan dalam beberapa jalur. Selain sesi bersama profesional psikologi, suasana positif di sekolah digalang agar murid tidak terus terperangkap dalam bayang-bayang peristiwa gempa.

Organisasi sosial dan perguruan tinggi ikut mendampingi

Pendampingan tidak hanya bertumpu pada kementerian dan HIMPSI. Sejumlah organisasi sosial serta perguruan tinggi turut hadir membantu masyarakat yang terdampak gempa, termasuk komunitas pendidikan di wilayah NTT.

Keterlibatan banyak pihak memperluas jangkauan layanan, mulai dari dukungan emosional hingga penguatan kapasitas guru dalam mendeteksi tanda-tanda stres pada murid. Model kolaborasi semacam ini relevan dipelajari daerah lain, termasuk Bali, yang secara geografis juga berada di kawasan rawan gempa.

Arti penting bagi daerah rawan bencana seperti Bali

Meskipun episentrum dan dampak langsung berada di NTT, berita ini punya nilai pembelajaran bagi warga Denpasar dan kabupaten/kota di Bali. Sistem pendidikan yang siaga bencana idealnya sudah memuat protokol dukungan psikososial, bukan baru disusun setelah musibah terjadi.

Orang tua, guru, dan dinas pendidikan setempat dapat menimba pengalaman dari langkah Kemendikdasmen: memadukan perbaikan fisik sekolah dengan layanan mental, melibatkan tenaga profesional, serta membuka ruang bagi kampus dan lembaga sosial. Dengan begitu, pemulihan belajar menjadi lebih utuh dan berkelanjutan.

Ke depan, konsistensi pendampingan akan menentukan seberapa cepat murid dan guru di NTT kembali pada ritme pembelajaran yang stabil. Dukungan psikososial yang hadir sejak fase tanggap darurat diharapkan mengurangi risiko trauma berkepanjangan dan menjaga hak anak atas pendidikan yang aman secara emosional.

Sumber: Sindo News.

Tag: gempa NTT, layanan psikososial, Kemendikdasmen, pemulihan mental murid, HIMPSI, pendidikan pascabencana, Abdul Mu’ti, dukungan guru